Kamis, 28 Juni 2012

Dianne mencoba untuk menyambangi Islamic Center

REPUBLIKA.CO.ID, Lantaran merasa ragu, Dianne mencoba untuk menyambangi Islamic Center, yang jaraknya satu jam dari tempat ia tinggal. 

Setibanya di masjid—saat itu tengah berlangsung pelaksanaan shalat Jum'at—tidak ada yang bersedia untuk menemui Dianne. Itu karena, Dianne dianggap sebagai mata-mata.

Di tengah fase akhir, Dianne mengalami cobaan. Ayahnya meninggal karena kanker. Ia berada di sisi ayahnya hingga malaikat mau mencabut nyawa. Ia menangis dan takut. Momentum itu membuat Dianne tak sabar untuk memeluk Islam.

Ia pergi ke Mesir setelah kematian ayahnya. Di Negeri Firaun itu ia menemukan kebenaran yang ia cari; Tuhan yang satu, kekal abadi, yang  tidak pernah dilahirkan ataupun memiliki anak. 

"Dalam Alquran disebutkan, orang-orang yang terbaik adalah orang-orang yang saleh. Sebelum anda menjadi saleh, anda harus mencari siapa Tuhan itu," kata Dianne yang segera belajar bahasa Arab guna mempermudah dirinya mengkaji Alquran.

Dianne mengaku semenjak ia mempelajari Alquran, ia tidak lagi ingin mengejar kemewahan dunia. Hobi belanja yang biasa ia lakukan mulai dikurangi. Ia pun ikhlas bila teman dan keluarga meninggalkannya karena statusnya sebagai Muslim. "Jika Tuhan memilih untuk membawa mereka pada Islam, maka jadilah. Tapi aku tahu, bahwa Tuhan memberi apa yang dibutuhkan, tidak kurang dan lebih.”

Kini, ia telah menjadi Muslim. Namun, ia tidak egois. Ia tak ingin menikmati sendiri hidayah Allah SWT yang diberikan padanya. Ia mengharapkan Allah SWT juga memberikan hidayah serupa kepada masyarakat AS.

Dianne mengatakan masyarakat AS sudah terlalu stres dengan situasi duniawi. Sudah saatnya mereka untuk menuju kebenaran hakiki, kebenaran yang selama ini dihina, ditolak dan diacuhkan.

"Aku peduli dengan masa depan AS. Aku berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga AS untuk menerima pesan dari keesaan Allah dengan cara sederhana," pungkasnya. 

1 komentar: